LSM IMD Pertanyakan Laporan di Polda

Sabtu,28 November 2015 | 17:16:40 WIB
LSM IMD Pertanyakan Laporan di Polda
Ket Foto : Direktur Eksekuif LSM IMD Riau, R Adnan

PEKANBARU (jurnalmetronews.com)- Direktur Eksekutif Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesian Monitoring Development (LSM IMD) Riau, R Adnan mempertanyakan perkembangan laporan yang pernah disampaikan terkait dengan fitnah dan pencemaran nama baik di Polda Riau.

Dikatakan R Adnan, pada tanggal 5 september 2012 selaku korban pernah melaporkan Kepala Bidang Sumber Daya Air, Dinas Pekerjaan Umum yang saat ini menjabat sebagai Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Provinsi Riau, berinisial ST karena diduga memfitnah dan mencemarkan nama baik dengan cara membuat pernyataan  di salah satu media masa.

Pelapor atau korban, R Adnan yang sudah melaporkan ke Jaksa Agung Republik Indonesia dugaan kerugian negara berdasarkan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Rp3,9 miliar dan potensi kerugian negara sebesar Rp26 miliar, sebagaimana diberitakan pada media tersebut. Pihak media masa tersebut juga memuat komentar dari ST berkaitan dengan laporan yang telah disampaikan ke Kejaksaan Agung tersebut.

Di media massa tersebut, ada komentar “Adnan Itu Pemeras” dan dulu pernah saya lempar pakai cangkir," ujar R Adnan menirukan perkataan ST kepada salah satu media lokal di Pekanbaru.

Oleh karenanya, merasa tidak pernah melakukan pemerasan  dan itu betul-betul fitnah, korban pelemparan ST dan dilakukan oleh para saksi, perlakukan semenah-menah yang dilakukan oleh pejabat tersebut ditambah upaya penculikan pada saat seminar di Hotel Pangeran Pekanbaru dan merasa sangat terancam keselamatannya, maka R Adnan berkesimpulan melaporkan tindakan ST ke Polda Riau untuk ditindak lanjuti dengan STTPL Nomor : 270/IX/2012/SPKT?RIAU tanggal 5 September 2012. Surat pemberitahuan perkembangan penelitian Laporan Nomor : B/325/IX/2012/Reskrimun bulan September 2012 yang ditanda tanagani oleh Kasubdit I selaku Penyidik AKBP Syamsul Anwar dengan NRP 59110445.

Saat itu R Adnan sudah diminta keterangan 3 kali dan diminta menyerahkan bukti (Koran asli Tirai Investigasi) oleh Brigadir Mardani Tohenes Lesa dan Brigadir Jonifri.

Sekitar bulan Desember 2012, R Adnan diundang secara lisan untuk menghadiri gelar perkara kasus tersebut, tapi karena sedang ada kegiatan di Jakarta acara gelar perkara tidak bisa dihadiri, berdasarkan penjelasan Brigadir  Jonifri dalam gelar perkara tersebut sudah disimpulkan untuk ditingkatkan ke penyidikan dan ST ditetapkan sebagai tersangka. Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) ke Kejaksaan juga sudah disampaikan jelas Brigadir Jonifri.

Sekitar bulan Juni 2013, R Adnan mengatakan, dipanggil via telpon oleh Brigadir Jonifri menjelaskan Jaksa dari Kejaksaan Tinggi Riau mengembalikan berkas (P.19) dengan petunjuk meminta ditambah keterangan saksi ahli.

Pada 6 juli 2015, R Adnan dipanggil AKBP Suprapto, SH selaku Pelaksana Tugas (Plt) Kasubdit I Reskimun Polda Riau dengan surat panggilan Nomor S.Pgl./1670/VII/2015/Reskrimun yang diselenggarakan Brigadir Edi Winoto untuk menghadap AKP Usril.

Oleh karena kasus ini sudah 3 tahun lebih tidak ada penuntasan, oleh karena itu Ketua LSM IMD Riau ini mempertanyakan kasusnya tersebut. "Mengapa Polda Riau mengendapkan kasus tersebut, sementara petunjuk jaksa tinggal meminta keterangan ahli saja, apakah untuk meminta keterangan ahli memerlukan biaya yang harus Pelapor sediakan, apakah Polda konsisten menegakkan  hukum khususnya kasus tersebut, jika konsisten tindakan penyidik tidak menyelesaikan kasus tersebut harus diberikan sanksi tegas, karena tindakan penyidik dugaan mengendapkan dan menghilangkan  bukti-bukti kasus tersebut adalah kejahatan serius dan pelanggaran kode etik Kepolisisan," tukas R Adnan kepada jurnalmetronews.com, Sabtu (28/11/2015).

Untuk itu, R Adnan meminta penjelasan tegas dan kongkrit dari Kapolda Riau. Jika memang tidak cukup bukti, Polda Riau dipersilakan mengeluarkan SP3 agar Direktur Eksekutif LSM IMD mempraperadilankan, mengingat P19 dari kejaksaan  hanya memerlukan tambahan bukti keterangan ahli. "Ini berarti bukti permulaan sudah cukup," ujar R Adnan. (war)
 

Akses JurnalMetroNews.Com Via Mobile m.JurnalMetroNews.co
Copyright © 2015 JurnalMetroNews.Com - Development By 8MEDIA TECHNOLOGY