Advertorial

Plt Gubri Dorong Penguatan Pembangunan Pertanian dan Perkebunan

Kamis,10 Desember 2015 | 21:31:49 WIB
Plt Gubri Dorong Penguatan Pembangunan Pertanian dan Perkebunan
Ket Foto : Menteri Pertanian di dampingi Plt.Gubernur Riau Andi Rahman Panen Raya Padi di Desa Bina Maju Kec Rangsang Barat Kab Meranti - Pelaksana Tugas Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman bersama Menteri Pertanian (Mentan) RI panen raya padi di Kabupaten Meranti

PEKANBARU- Sektor pertanian dan perkebunan sebagai penggerak perekonomian memiliki beberapa peranan penting, bagi masyarakat Provinsi Riau. Sektor pertanian dan perkebunan merupakan sumber utama kehidupan dan pendapatan masyarakat petani. Sektor pertanian dan perkebunan mampu meningkatkan keadaan sosial ekonomi petani melalui peningkatan akses terhadap teknologi, modal, dan pasar.

Peranan dari sektor pertanian dan perkebunan penyediaan bahan pangan bagi penduduk Provinsi Riau. Dengan peranan pertanian sebagai penyedia bahan pangan yang relatf murah, telah memungkinkan biaya hidup tergolong rendah. Rendahnya biaya hidup menjadi salah satu daya saing nasional. Keberhasilan dalam penyediaan bahan pangan yang cukup dan stabil meimilki peran yang besar dalam penciptaaan ketahanan pangan nasional (food security) yang erat kaitannya dengan stabilitas sosial, ekonomi, dan politik.

Menurut Almasdi Syahza (2008), tingginya pertumbuhan sektor pertanian, karena ditunjang tanaman berorientasi ekspor seperti kelapa sawit, karet dan sebagainya. Pertumbuhan ekonomi masyarakat Riau secara kuantitatif mencapai hasil yang cukup baik.

Pada tahun 2007-2008 pertumbuhan ekonomi sebesar 8,40 persen, pertumbuhan yang tinggi ini ditunjang sektor pertanian terutama bidang perkebunan. Pada tahun 1996 pertumbuhan sektor pertanian yang menjadi tulang punggung masyarakat pedesaan Riau adalah 2 persen, sedangkan sektor industri sebesar 14 persen, namun pada tahun 2002 peningkatan pada sektor pertanian 6,06 persen sedangkan industri 12,47 persen. Selama 2002-2007 cukup baik yaitu 6,79 persen.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak mencerminkan pendapatan yang adil dan merata karena pertumbuhan ekonomi banyak di nikmati justru oleh masyarakat perkotaan, sedangkan masyarakat desa hanya sedikit menikmati. Kesenjangan ini semakin di perburuk dengan pembangunan antar sektor pertanian dan non pertanian tidak merata.

Pertumbuhan sektor pertanian yang secara kuantitatif yang cukup tinggi tidak diiringi dengan peningkatan pendapatan masyarakat pertanian. Oleh karena itu, masyarakat pemerintah mencanangkan program pemberantasan kebodohan, kemiskinan dan pembangunan infrastruktur (K2I) dalam setiap pembangunan yang dilakukan. Karena pembangunan daerah sangat ditentukan oleh potensi daerah yang dimiliki, maka kebijakannya harus mengacu pada potensi yang berpeluang dikembangkan dan sampai saat ini kelapa sawit jadi primadona di Riau.

Plt Gubri bersama dengan Mentan RI dan unsur Forkopimda saat menghadiri panen raya di Kabupaten Meranti, belum lama ini.

 

Plt Gubri : Penguatan Sektor Pertanian Dapat Tanggulangi Krisis Pangan

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman mengatakan, penguatan di sektor pertanian dapat menanggulangi krisis pangan yang dihadapi saat ini dan perlu menjadi perhatian dan penanganan khusus adalah defisit pangan di Provinsi Riau semakin meningkat setiap tahun. Tingkat ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah rata-rata masih mencapai 60-70 persen.

Hal ini disebabkan tingkat produksi tanaman pangan  yang dihasilkan belum dapat memenuhi kebutuhan pangan sendiri. "Pangan saat ini di Riau masih kekurangan. Terjadi defisit 327 ribu ton beras. Sehingga harus dipasok dari provinsi tetangga dan bahkan diimpor," kata Andi, panggilan akrab Plt Gubri.

Padahal, menurut dia, provinsi tersebut memiliki bahan pokok sebagai alternatif yaitu sagu yang diolah jadi berbagai jenis makanan seperti mie sagu dan sangat cukup melimpah di Kabupaten Kepulauan Meranti dan Kabupaten Indragiri Hilir. Ia mengatakan, sagu memiliki kandungan karbohidrat yang sangat tinggi, sehingga dapat memberikan energi yang dibutuhkan manusia serta dapat dijadikan makanan pokok alternatif penganti selain beras dan masalahnya belum populer di tengah-tengah masyarakat terutama di Riau.

Tanaman yang tumbuh subur di dua kabupaten di Riau tersebut, merupakan ciri khas negara ini karena banyak terdapat di Indonesia serta dimanfaatkan sebagai bahan makanan pokok kedua setelah beras. "Untuk itu, kami sebagai pemerintah provinsi akan mendorong penggunaan sagu supaya menjadi bahan makanan pokok alternatif dan bisa semakin populer diRiau," ucap Arsyadjuliandi.

Plt Gubernur Riau juga mengatakan, meski kondisi ketahanan pangan cukup memadai, tapi belum sepenuhnya dihasilkan dari daerah tersebut. Provinsi Riau masih kekurangan sekira 326 ribu ton beras. Dalam memenuhi kebutuhan, pasokan beras dibantu dari Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan dari pulau Jawa. "Namun, jika desa ini bisa mengembangkan sawah, tentu akan mengurangi kekurangan beras, apalagi jumlah penduduk terus bertambah," kata Andi.

 

Pembangan Perkebunan Buka Lapangan Pekerjaan

Pengembangan perkebunan di pedesaan telah membuka peluang kerja bagi masyarakat yang mampu untuk menerima peluang tersebut. Dengan adanya perusahaan perkebunan, mata pencaharian masyarakat tempatan tidak lagi terbatas pada sektor primer dalam memenuhi kebutuhan keluarganya, tetapi telah memperluas ruang gerak usahanya pada sektor tertier.

Bermacam sumber pendapatan yang memberikan andil yaitu pedagang (dagang barang-barang harian, dagang karet, tiket angkutan dan penjual es), pegawai (guru, pemerintahan desa), industri rumah tangga (industri tahu, roti, dan percetakan, genteng), buruh kasar, nelayan, pencari kayu di hutan dan tukang kayu. (adv/hms)

Akses JurnalMetroNews.Com Via Mobile m.JurnalMetroNews.co
Copyright © 2015 JurnalMetroNews.Com - Development By 8MEDIA TECHNOLOGY