Persoalan Tanah Wakaf Kelurahan Tampan 33 Tahun tak Tuntas

Selasa,04 Oktober 2016 | 21:02:32 WIB
Persoalan Tanah Wakaf Kelurahan Tampan 33 Tahun tak Tuntas
Ket Foto : Foto :ilustrasi (int)

PEKANBARU (jurnalmetronews.com) - Persoalan tanah wakaf seluas 3 hektare di RW.08, Kelurahan Tampan, Kecamatan Payung Sekaki tak kunjung tuntas. Padahal sudah 33 tahun.

Lahan yang ditanami kelapa sawit tersebut, masih dipersoalkan. Ketua RW 08, Hendrizal mengatakan, awalnya lahan tersebut milik ayahnya Kamar Zaman yang menggarapnya pada tahun 1980 di Kecamatan Siak Hulu, Kampar (sekarang Kecamatan Payung Sekaki, red). Di tahun 1983, Kamar Zaman ada kesepakatan jual beli dengan H Menok. Ternyata, setelah membayar panjar sebesar Rp30 ribu, H Menok meminta surat dengan alasan mau mengurus pemecahan surat ke Kecamatan Siak Hulu.

Dua minggu kemudian, Kamar Zaman menanyakan pemecahan surat itu. H Menok menjawab, pemecahan surat itu belum selesai. Namun setelah berkali-kali ditanya, H Menok marah.

Di tahun 2008, ungkap Hendrizal, Kamar Zaman membuat laporan ke Poltabes. Namun, penyidik menyarankan agar diselesaikan dengan musyawarah di Kelurahan, karena Kamar Zaman juga tak ada surat. Di tahun 2012 lalu, ungkap Ketua RW.08, dibentuk tim oleh Lurah Tampan guna menyelesaikan persoalan tanah wakaf tersebut.

Sayangnya, tim yang beranggotakan 9 orang tersebut tak membuahkan hasil, hingga kini menurut Hendrizal, persoalan lahan wakaf masih belum selesai. Malahan, Hendrizal mendapatkan surat lahan yang atas nama Lazat. Padahal, Lazat tak pernah punya lahan di sana.

Hal itu dibuktikan dengan surat pernyataan dari istri Lazat, Rosmidarni yang menyatakan suaminya tak pernah punya lahan di Jalan Siak II, bahkan surat pernyataan yang dibuat istri Lazat pada 3 September 2008 itu juga diketahui Ketua RT I Mukhlis HS. Terkait dengan lahan milik Kamar Zaman yang saat ini diklaim sebagai lahan wakaf, menurut Hendrizal, pihaknya mendukung wakaf, akan tetapi mohon tim memperhatikan keluarga Kamar Zaman. Pasalnya, tanah yang diwakafkan tak bersengketa dengan pihak lain.

Selaku anak dari Kamar Zaman, Hendrizal juga mengharapkan lahan itu dikembalikan ke Kamar Zaman, karena persoalan dengan H Menok belum selesai. Di pihak lain, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Tampan, Andri Putra menyatakan, pihaknya juga berulang kali mempertanyakan lahan tersebut, bahkan LPM telah mengumpulkan informasi dan data terkait tanah wakaf.


Dari penjelesan yang diberikan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Payung Sekaki, dengan nomor surat : Kua.04.4/01/BA.00/189/2016 pada 27 Juli 2016 menyatakan, tanah yang diwakafkan tak sah, karena tak penuhi syarat dan rukun wakaf sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Begitu juga dengan sempadannya, ungkap Andri, yang juga tak jelas.

"Surat wakaf tersebut tidak ada nomor registernya dan tak ada nomor surat dasarnya," ungkap Andri Putra.

Terkait dengan hal itu, Lurah Tampan Edwar mengatakan, tak ada tanah wakaf. H Menok telah mewakafkan tanah tersebut ke Kepala Desa Tampan, Danuri pada tahun 1983. "Alhamdulillah, ada salah satu tokoh yang menyimpan surat wakaf tersebut, yakni Bawahi," ungkap Edwar, Selasa (4/10/2016).

Lurah Tampan sebelumnya, sebenarnya sudah berusaha menyelesaikan persoalan tanah wakaf tersebut, namun hingga kini belum selesai juga. Sudah 33 tahun, persoalan tanah wakaf itu belum tuntas.

Terkait dengan surat dasar wakaf, menurut Lurah, pihaknya menyimpan Surat Kepemilikan Tanah (SKPT), surat tersebut diserahkan Bawahi, selaku Ketua Tim 9 ke Kelurahan disaksikan tokoh masyarakat yang lain. "Untuk sementara surat itu di sini," ungkap Edwar.

Lurah Tampan menyatakan, belum pernah melihat surat Kamar Zaman. Pihaknya juga pernah menanyakan, namun tak pernah ditunjukkan. Lurah mempersilakan bagi pihak-pihak yang keberatan terhadap tanah wakaf itu menuntutnya. "Silakan tuntut kalau tim yang salah," tukasnya. (war)








 

Akses JurnalMetroNews.Com Via Mobile m.JurnalMetroNews.co
Copyright © 2015 JurnalMetroNews.Com - Development By 8MEDIA TECHNOLOGY