8 Jam Diperiksa, Dirut PT Hutahean Mengaku Capek

Senin,14 Agustus 2017 | 18:46:48 WIB
8 Jam Diperiksa, Dirut PT Hutahean Mengaku Capek
Ket Foto : Dirut PT Hutahean, HW Hutahean usai diperiksa di kantor Ditreskrimsus Polda Riau, Senin (14/8/2018/7) sore.
PEKANBARU, jurnalmetronews.com - Direktur Utama PT Hutahean, HW Hutahean mengaku capek usai diperiksa selama 8 jam oleh penyidik Subdit IV Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Riau, Senin (14/8/2017).

"Saya capek," ujar HW singkat, usai diperiksa di Kantor Ditreskrimsus Polda Riau, Jalan Gajah Mada pada Senin sore.

Menurut pantauan jurnalmetronews.com di lokasi, HW diperiksa mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Pemeriksaan tahap pertama usai pada jam makan siang yakni pukul 12.30 WIB dan kembali pukul 14.00 WIB. Selanjutnya pada pemeriksaan kedua terhadap HW dilakukan mulai pukul 14.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB.

Sementara itu Wadir Reskrimsus Polda Riau, AKBP Edi Fariadi mengatakan bahwa PT Hutahean yang ditetapkan sebagai tersangka disangkakan dengan Pasal 92 ayat (2) UU No 13 tahun 2013 korporasi Undang-Undang Kehutanan.

Pada Pasal 92 ayat (2) UU No 13 tahun 2013 korporasi tersebut disebutkan bahwa korporasi yang melakukan kegiatan perkebunan tanpa izin Menteri di dalam kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf b; dan/atau

b. membawa alat-alat berat dan/atau alat-alat lainnya yang lazim atau patut diduga akan digunakan untuk melakukan kegiatan perkebunan dan/atau mengangkut hasil kebun di dalam kawasan hutan tanpa izin Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf a, maka dapat dipidana dengan pidana penjara paling singkat 8 (delapan) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah) dan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah). 

Sementara itu, Edi mengungkapkan bahwa lahan yang digarap PT Hutahean yang sudah ditetapkan sebagai tersangka ini diduga masuk ke dalam kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI). Hanya saja, Wadir tak menyebutkan secara gamblang HTI tersebut."Masuk HTI," ujarnya secara singkat.

Seperti yang diberitakan sebelumnya bahwa perusahaan itu dituding mengeksploitasi lahan seluas 835 hektare di luar hak guna usaha (HGU).

Setelah melakukan rangkaian penyelidikan berupa mengumpulkan bukti, keterangan saksi dan keterangan ahli, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau akhirnya menetapkan PT Hutahean sebagai tersangka. 

Perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit tersebut ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan perizinan ilegal penggunaan lahan di kawasan hutan dan di luar Hak Guna Usaha seluas 835 hektare. 

Menurut informasi, perusahaan tersebut tidak memiliki izin pelepasan hutan dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan HGU dari Bupati Rokan Hulu.  

Kasus ini mulai terkuak ketika Kelompok masyarakat Koalisi Rakyat Riau (KRR) melalui Koordinator KRR Fachri Yasin, melaporkan 33 perusahaan di Riau diduga telah melakukan tindak pidana menguasai kawasan lahan dan hutan secara ilegal ke Polda Riau beberapa waktu lalu. 

Menurut Fachri, berdasarkan data Panitia Khusus Monitoring dan Evaluasi perizinan DPRD Riau, 33 perusahaan sawit tadi diduga berada di dalam kawasan hutan seluas 103.320 hektare. 

Kemudian sekitar 203.977 hektare kebun sawit lagi ditanam tanpa menggunakan izin Hak Guna Usaha (HGU). Dari 33 perusahaan ada empat yang naik ke penyidikan yakni PTPN V, PT Ganda Hera Hendana, PT Seko Indah dan PT Hutahaean yang kemudian ditetapkan tersangka.(sya)
Akses JurnalMetroNews.Com Via Mobile m.JurnalMetroNews.co
Copyright © 2015 JurnalMetroNews.Com - Development By 8MEDIA TECHNOLOGY