Harimau yang Serang Karyawan di Inhil Mulai Terpantau Sejak Desember 2016

Jumat,05 Januari 2018 | 12:45:45 WIB
Harimau yang Serang Karyawan di Inhil Mulai Terpantau Sejak Desember 2016
Ket Foto : Harimau Sumatera hasil kamera trap. sumber: Humas BBKSDA Riau.

‎PEKANBARU, jurnalmetronews.com - Kemunculan harimau Sumatera di perkebunan PT THIP (Tabung Haji Indo Plantion) Kabupaten Inhil, yang menewaskan seorang pekerja bernama Jumiati menjadi perhatian khusus dari berbagai pihak.

 

Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Balai Besar Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Hariono, jejak satwa dengan nama latin Panthera Tigris Sumatrae itu, ternyata sudah mulai terpantau sejak akhir Desember tahun 2016 lalu di Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran tersebut.

 

"Kemunculan pertama Desember 2016. Dari kemunculan itu menarik aktivis untuk melakukan observasi di kawasan tersebut," ungkapnya.

 

Tak lama setelah kemunculan pertamanya, satwa langka itu kembali meninggalkan jejak di lokasi pada bulan Januari 2017. Tentunya hal itu membuat para pihak melakukan antisipasi agar tak terjadi konflik antara binatang buas tersebut dengan masyarakat.

 

"Langkah-langkah yang dilakukan sosialisasi dengan masyarakat, pasang tanda peringatan bahwa disana ada harimau, bagaimana cara menghadapi harimau. Dilakukan pengamatan langsung terhadap jelajah satwa tersebut serta memasang kamera trap," tuturnya.

 

Harimau itu mulai memasuki kawasan perkebunan sawit milik perusahaan yang dulunya bernama PT Tabung Haji tersebut, pada bulan Mei 2017. Bahkan kemunculannya sempat menjadi viral.

 

"Tim balai besar bersama WWF menuju TKP, meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat dan pekerja kebun, memasang rambu-rambu, meminta perusahaan untuk meningkatkan pemantauan patroli. Kita meminta agar tidak ada pekerja kebun yang bekerja sendiri-sendiri artinya secara berkelompok," katanya.

 

‎Kemudian pada September 2017, BKSDA kembali ke lokasi untuk memperluas pengamatan sampai pada areal HTI milik Arara Abadi yang berbatasan langsung dengan kebun PT THIP. Selain itu juga berkonsultasi dengan Dirjen KSDAE tentang situasi konflik satwa yang semakin meningat.

 

"Kita sudah mendapatkan surat rekomendasi dari KSDAE untuk langkah pengamanan harimau di evakuasi ke lokasi kawasan Konervasi terdekat yang jauh dari aktifitas pada Desember 2017. Rencananya pada 4 Januari ini kita akan membahas soal itu dan evakusi tentunyaa tak dapat dilakukan secara sembarangan karena itu adalah satwa yang dilindungi," ujarnya.

 

Dari hasil pantauan melalui kamera trap, diduga harimau itu tidak hanya berjumlah satu ekor. Bahkan ada yang menyebutkan kalau itu merupakan satu keluarga harimau.

 

"Bukan hanya satu individu. Bahkan ada juga yang menyebutkan kalau harimau itu terdiri dari satu kelurga, dua harimau dewasa dan satu anaknya. Namun kita masih mengumpulkan jumlah sebenarnya," lanjutnya.

 

Nahasnya, sebelum pembahasan evakuasi satwa langka itu dilakukan, ternyata salah seorang karyawan telah menjadi korbannya.

 

Jumiati yang diketahui sebagai pekerja harian di perusahaan tersebut tewas secara mengenaskan akibat serangan binatang buas. Saat itu dia bersama dua rekannya sedang memanen sawit di KCB 76 Blok 10 Afdeling IV Eboni State PT THIP, pada Rabu (3/1/2018) siang.

 

"Pada saat 3 karyawan sedang melakukan perawatan di perkebunan kemudian bertemu harimau tersebut. Mungkin karena sama-sama terkejut dan harimau melakukan penyerangan. Satu korban inisial J meninggal dan dua orang selamat dengan cara memanjat pohon," sebut mantan Kepala BKSDA Bali ini.

 

Karena adanya penyerangan itu, akhirnya tim yang semula dijadwalkan berangkat ke lokasi pada 4 Januari dimajukan menjadi 3 Januari 2018.

 

"Tim langsung menuju ke lokasi dengan berkoordinasi dengan Polres Inhil pada Rabu itu. Saat ini masih dilakukan investigasi. Di tim itu juga ada tim evakuasi," tukasnya.(sya)

Akses JurnalMetroNews.Com Via Mobile m.JurnalMetroNews.co
Copyright © 2015 JurnalMetroNews.Com - Development By 8MEDIA TECHNOLOGY