Pekerja Diterkam Harimau, KLHK Diminta Review Amdal dan Izin PT THIP

Sabtu,06 Januari 2018 | 20:02:11 WIB
Pekerja Diterkam Harimau, KLHK Diminta Review Amdal dan Izin PT THIP
Ket Foto : Koordinator Jikalahari, Woro Supartinah/Foto : int.

PEKANBARU, jurnalmetronews.com - Jaringan Kerja Lingkungan Hidup Riau (Jikalahari) mendesak agar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan segera mereview Analisa Dampak Lingkungan dan izin lingkungan PT Tabung Haji Indo Plantation (THIP).

 

Selain itu, kegiatan penanaman dan pemanenan di areal tersebut, mesti dihentikan kegiatan hingga review Analisa Dampak Lingkungan (Amdal) dan izin lingkungan selesai dilakukan. 

 

"Seharusnya kasus yang dialami Jumiati tak akan terjadi jika PT THIP menyusun AMDAL dan izin lingkungannya dengan benar, terutama menyangkut perlindungan habitat Harimau di sekitarnya" kata Woro Supartinah, Koordinator Jikalahari.

 

Jikalahari juga mendesak Gakkum KLHK menetapkan PT THIP sebagai tersangka tindak pidana kehutanan karena 2.101 hektare dari 79.664 hektare di areal konsesinya berada dalam kawasan hutan dengan fungsi Hutan Produksi Tetap berdasarkan SK 903/Menlhk/Setjen/PLA.2/12/2016. 

 

Temuan lainnya, pada 2015 Pansus Monitoring Evaluasi Perizinan DPRD Provinsi Riau menemukan, pertama PT THIP terbukti menanam di luar areal konsesi yang diberikan Kementrian Kehutanan di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), seluas 7.075 hektare. 

 

Kedua, menguasai lahan di luar izin Hak Guna Usaha (HGU) seluas 5.914 hektare. Ketiga, dari aspek keuangan dan perpajakan diduga merugikan keuangan negara, daerah, dan masyarakat dalam bentuk potensi pajak P3 (PPn, PPh, dan PBB) kurang lebih Rp354 miliar pertahunnya. Keempat, PT THIP diduga melakukan pengrusakan lingkungan menanaman di Daerah Aliran Sungai (DAS) pada kategori sungai-sungai kecil.

 

Jikalahari menilai penyebab kematian Jumiati karena hutan alam telah dirusak oleh PT THIP di zona penyangga Lanskap Kerumutan—salah satu habitat Harimau Sumatera di Provinsi Riau. PT THIP sendiri beroperasi di lahan gambut kedalaman lebih dari 4 meter dan menebang seluruh hutan alam diganti dengan sawit. 

 

Sebelum kejadian tewasnya Jumiati, pada Mei 2017 juga beredar berita dan video kemunculan Harimau Sumatera di Desa Tanjung Simpang Kecamatan Pelangiran . “Harimau Sumatera akan selalu melewati jalur yang sama, wajar jika ia muncul di areal korporasi karena itu memang habitat dan jalur jelajahnya,” kata Woro.

 

Korporasi seharusnya dapat mengantisipasi kemungkinan kemunculan Harimau. Dalam rilisnya, Jikalahari menyesalkan lambannya respon Gubernur Riau dan Bupati Indragiri Hilir terhadap peristiwa ini. (rls)

Akses JurnalMetroNews.Com Via Mobile m.JurnalMetroNews.co
Copyright © 2015 JurnalMetroNews.Com - Development By 8MEDIA TECHNOLOGY